Perspektif Green Thought Dalam Hubungan Internasional
         
            Isu lingkungan menjadi perhatian dunia sejak tahun 1980. Banyaknya kerusakan alam yang tejadi sehingga menimbulkan bencana yang menjadi ancaman bagi kehidupan manusia sehingga munculah Green Thought sebagai perspektif dalam hubungan internasional yang berperan aktif dalam memikirkan kerusakan lingkungan hidup tersebut. Pemanasan global, kelangkaan sumber daya dan menipisnya lapisan ozon merupakan contoh permasalah lingkungan yang disebakan oleh aktivitas manusia dan permasalahan yang seperti itu membutuhkan respon dari berbagai Negara untuk menggulaninya. Perspektif Hijau atau Green Theory kemudian hadir dan mulai dikaji oleh studi Hubungan Internasional di sekitar tahun 1980an. Permasalahan mengenai lingkungan menjadi masalah yang penting untuk dikaji dalam dunia Internasional karena lingkungan sebagai sarana interaksi memiliki pengaruh yang kuat dalam hubungan internasional (Jackson & Sorensen 1999, 339).
          Green Thought memiliki beberapa asumsi, pertama menekankan “global” daripda “internasional”. Maksudnya disini adalah sangat diperlakukan adanya sebuah komunitas yang bersifat global karena seperti yang kita ketahui lingkungan sudah menjadi masalah bersama seluruh penduduk dunia, tidak hanya itu, pengontrolan sumber daya secara mandiri tentunya sangat diperlukan.
Konflik dalam suatu hubungan internasional yang dijelaskan oleh Green Theory bukanlah berupa perang maupun persaingan secara fisik lainnya, melainkan merujuk ke hal yang lebih sederhana: perusakan lingkungan. Green Theory berpendapat bahwa konflik ‘besar’ berupa kerusakan pada planet bumi beserta seisinya ini diawali oleh satu konflik mendasar antara kelompok masyarakat industri yang cenderung menghancurkan lingkungan dengan mereka yang menentang cara masyarakat yang semacam ini (perusak lingkungan) (Steans & Pettiford 2001, 403-404).

Contoh Kasus yang Berhubungan dengan Green Tought
Salah satu contoh kasus yang berkaitan dengan Green Thought yaitu Kebakaran Hutan. Yang sering disebabkan dengan perilaku manusia itu sendiri, seperti pembakaran hutan yang disengaja untuk pengosongan lahan yang akan dijadikan bangunan, dan dalam beberapa kasus, penduduk lokal juga melakukan pembakaran untuk memprotes pemngambilan alihan lahan mereka yang dijadikan perusahaan” olah kelapa sawit dll. Dan kecerobahan manusia antara lain membuang puntung rokok secara sembarangan dan lupa mematikan api pada proses perkemahan.


Komentar